PPID Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura

Kementerian Pertanian Republik Indonesia

PPID Balai Besar Pengembangan Pengujian Mutu Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura

MENENGOK PENGEMBANGAN BENIH PADI HIBRIDA DI INDONESIA




Upaya pemerintah dalam penyediaan pangan (beras) dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satu tantangan yang cukup berat adalah terjadinya konversi lahan sawah ke peruntukan lainnya, seperti untuk penggunaan perumahan, industri, perkatoran, pusat bisnis dan infrastruktur. Konversi lahan sawah sangat mempengaruhi keberlanjutan produksi beras sehingga memerlukan penanganan serius. Untuk menkompensasi kehilangan lahan pertanian, pemerintah berupaya melakukan pencetakan lahan sawah baru di luar Jawa. Namun langkah ini kurang sebanding dengan areal lahan yang telah terkonversi, selain itu juga tingkat kesuburannya tanahnya juga masih rendah.

 Usaha peningkatan produksi melalui intensifikasi dipandang masih menjadi pilihan utama dalam pencapaian ketahanan pangan di Indonesia. Menengok pada perjalanan sejarah, upaya peningkatan produksi dengan program intensifikasi telah dilakukan pemerintah sejak akhir tahun 1960-an. Pemerintah saat itu telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan produksi pangan melalui program intensifikasi, di antaranya dengan penggunaan input pertanian modern termasuk varietas benih bermutu. Selanjutnya pada tahun 2007 pemerintah melaksanakan Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN), kemudian melaksanakan kegiatan Sekolah Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT) antara lain dengan bantuan benih padi hibrida yang cukup besar.

Padi hibrida diharapkan dapat mendongkrak produksi beras nasional, setidaknya varietas padi hibrida dapat dijadikan sebagai teknologi terobosan (breaktrough). Berdasarkan pengalaman negara lain yang telah lebih dahulu mengembangkan padi hibrida menunjukkan varietas ini memiliki sejumlah potensi untuk dikembangkan. Walaupun demikian, tidak dipungkiri juga menghadapi banyak kendala dan tantangan.

Benih memiliki posisi sangat vital dalam peningkatan produksi. Dalam benih terkandung potensi genetik produksi yang akan memberikan hasil dalam usaha pertanian. Sebaik apapun faktor lingkungan disediakan - seperti ketersediaan unsur hara dan yang lainnya - ketika potensi benihnya rendah maka rendah pula produksi yang dihasilkan sehingga persoalan benih harus mendapatkan perhatian lebih besar dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian kita.

Lantas bagaimana potret pengembangan benih padi hibrida di Indonesia, guna memenuhi kebutuhan benih padi hibrida bagi para petani, pelaku usaha budi daya tanaman padi hibrida  ? tentunya, benih yang legal beredar adalah benih bina, yaitu benih yang sudah dilepas oleh pemerintah.

Sampai dengan tahun 2020 benih padi hibrida yang sudah dilepas oleh pemerintah/ Menteri Pertanian sebanyak 107 varietas. Pelepasan pertama dilakukan pada tahun 2001, yaitu varietas Intani I, Intani 2. Tahun 2002, varietas Miki 1, Miki 2 dan Miki 3; Rokan Maro, Long Ping. Tahun 2003, Hibrindo R1, Hibrindo R2, Batang Samo, Batang Kampar. Tahun 2004, varietas HIPA 3, Hipa 4, Manis 4, Manis 5. Tahun 2005, varietas Segara Anak, Adirasa 1, PP1, PP2. Tahun 2006, varietas Mapan P-02, dan P-05, SL 8 dan SL 11 SHS, Brang Biji, Adirasa 64, PP 2 (Hidrid), Bernas Super, Bernas Prima. Tahun 2007, varietas Hipa 5 Ceva, Hipa 5 Jete. Tahun 2008, varietas Sembada B3, Sembada B5, Sembada B8, dan Sembada B9. Tahun 2009, vaietas Intani 602, Intansi 301, Hipa 7, Hipa 8 Pioner, WM 2 SHS, WM 3 SHS, WM 4 SHS dan WM 5 SHS, DG 1 SHS dan  DG 2 SHS, BSHS 1H, BSHS 3 H, BSHS 6 H, H6444, TEJ, Bernas Super 2, Bernas Prima 2, Bernas Prima 3, Bernas Peima 5.

Selanjutnya, pada tahun 2010, varietas yang dilepas adalah Sembada 101, Sembada 168, DR 1, DR 2, Hipa 9, Hipa 10, Hipa 11. Tahun 2011, varietas Hipa Jatim 1, Hipa Jatim 2, Hipa Jatim 3, Hipa 12 SBU, Hipa 13, Hipa 14 SBU, Rejo 1, Rejo 3, PAC 801, PAC 809, LPHT 6, LPHT 8, LOPP 11 Pertani. Tahun 2012, varietas Lestari 3, Lestari 5, Lestari 6, Pramitha, Chandra, BS 88 SHS, BS 99 SHS, DG 5 SHS, HS 06-5 AML, PP3, Tahun 2013, Manna 2, Damai 3, SL 1, H6444 GOLD, Prima, Hippa 18, Hippa 19. Tahun 2014, varietas Sembada 188, Sembada 626, Sembada 989, Suppadi 56, Suppadi 89. Tahun 2015, varietas SHRI Siung, SHRI Runcit. Tahun 2019, varietas PP 4, Hipa 20, Hipa 21, Sembada 178. Tahun 2020, varietas Bridantara 2, Bridandara 3, Bridantara 8, dan PP 5.

Tingkat pengembangan benih padi hibrida sangat tergantung dari permintaan pasar, yaitu adopsi dari pengembangan padi hibrida.  Menurut peniliti dari BB Padi Sukamadi, tingkat adopsi teknologi padi hibrida masih rendah, yakni di bawah 5 persen pada kurun waktu 2013-2017.

Adapun rendahnya adopsi padi hibrida di tingkat petani lebih disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya produksi benih padi memiliki proses rumit, serta produksi benih padi yang melibatkan galur mandul jantan. Proses ini secara alamiah memiliki rendemen benih lebih rendah dibandingkan padi normal, yaitu sekitar 1,5 ton per hektare. Oleh karena itu, harga benih padi hibrida lebih mahal dibandingkan dengan benih padi Inbrida. Hal ini menyebabkan terbatasnya ketersediaan benih hibrida di toko pertanian, karena terbatasnya jumlah produsen atau penangkar benih,

Faktor lain yang juga tak kalah penting adalah soal produktivitas varietas unggul yang memberikan keunggulan heterosis sekitar 10 persen dibandingkan padi inbrida. Padahal pada tingkat penelitian dan pengkajian angkanya bisa mencapai 15-20 persen.

Oleh : Eli Kuncoro – PBT Ahli Madya